Selasa, 31 Mei 2011

Sekolah Islam Unggulan

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan islam muncul dan berkembang di nusantara sejak islam masuk ke kepulauan ini, dibawa para sufi pengembara atau pedagang dari timur tengah yang kemudian hidup membaur dengan penduduk lokal. Perkembangan pendidikan islam di Indonesia diawali dari bentuk yang paling sederhana. Melalui kegiatan mengaji al-qur’an dan tata cara beribadah di surau-surau dan langgar, yang kemudian sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan.

Kehadiran sekolah unggulan di Indonesia merupakan harapan yang sejak lama diimpikan oleh banyak kalangan, sebab sekolah unggulan sudah menjadi sebuah kebutuhan yang mendasari kehidupan guna mendapatkan kehidupan dan penghidupan yang layak di masa yang akan datang, karena erat kaitannya dengan persaingan pasar yang acap kali mengedepankan rasa gengsi serta pamor semata, bagaimana tidak, di zaman modern ini anak yang memiliki bakat, keahlian, keterampilan dan minat yang di atas rata akan lebih diprioritaskan mendapat kesempatan utama ketimbang anak yang cendrung biasa-biasa saja atau bahkan di bawah rata-rata.
Untuk itu agar dapat bersaing di pasaran, pendidikan Islam pun ikut serta meramaikan dan tak mau kalah dengan sekolah-sekolah umum lain yang memang diunggulkan, maka sekolah Islam unggulanlah yang dianggap sebagai salah satu alternative guna mencetak pelajar Islam yang tak kalah pengetahuan umumnya dengan lulusan dari sekolah umum, untuk lebih jelasnya akan dijelaskan di pembahasan mengenai seluk beluk tentang sekolah Islam unggulan.

BAB II
PEMBAHASAN
Sekolah Islam Unggulan

A. Pengertian Sekolah Islam Unggulan
Sekolah Islam Unggulan adalah salah satu bentuk lembaga pendidikan islam hasil modifikasi antara model pendidikan Islam di lembaga pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan klasikal yang diadopsi dari model sekolah barat. Sekolah islam unggulan dengan model menetap di sekolah mulai berkembang sejak awal 1990-an. Eksperimen terhadap model sekolah unggulan seperti ini dilakukan, terutama diarahkan kepada kelompok sasaran, yaitu para siswa yang berasal dari kalangan kelas menengah atas.
Tujuan utama pendidikan islam model sekolah unggulan adalah membentuk pribadi muslim yang kuat mulai keyakinan teologis, pengalaman agama dan perwujudan perilaku anak yang berakhlak. Jadi, berbeda dengan pendidikan islam di pesantren yang dengan misi mencetak para ahli agama dan ulama, pendidikan di sekolah unggulan islam mempunyai misi mencetak generasi muslim yang memiliki basis keagamaan yang kuat disatu sisi, serta penguasaan sains dan teknologi dengan berbagai dukungan instrumen pendidikan dan perangkat teknologi modern. Terdapat dua model sekolah islam unggulan. Model pertama, sekolah-sekolah umum yang menerapkan kurikulum pemerintah yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, dan mengombinasikannya dengan memberikan penekanan pada pendidikan agama islam yang didukung oleh environment keagamaan Islam tanpa siswa harus menetap dan bermukim di sekolah. Model lain dari sekolah unggulan islam yaitu penerapan pola pendidikan seperti di lingkungan pesantren di mana para siswa mondok di kampus sekolahnya (boarding school) dibawah asuhan para pengasuh lembaga pendidikan tersebut. Sekolah Islam model ini menerapkan pola pendidikan terpadu antara penekanan pada pendidikan agama yang dikombinasi dengan kurikulum pengetahuan umum yang menekankan pada penguasaan sains dan teknologi.
Kekuatan model sekolah unggulan islam ini dapat dilihat dari beberapa aspek, mulai penerapan kurikulum, dan metode pendidikan dengan alokasi waktu yang menyeimbangkan antara pendidikan agama bagi pembentukan watak dan pribadi siswa dengan kurikulum umum, sampai pada penegakan disiplin hidup di kampus.

B. Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Pertumbuhan Sekolah Islam Unggulan
Faktor yang melatarbelakangi pertumbuhan sekolah Islam unggulan di Indonesia tidak terlepas dari faktor sejarah perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia, sehingga secara umum faktor yang melatabelakanginya adalah:
1. Corak pemikiran masayarakat yang semakin religious
2. Evaluasi dari lembaga pendidikan islam sebelumnya
3. Sebuah fenomena sosiologis yang muncul dari kondisi masyarakat yang terus berubah
4. Kesadaran akan kualitas lembaga pendidikan Islam yang lebih rendah disbanding dengan lembaga pendidikan umum
5. Tantangan zaman (termasuk di dalamnya dampak dari kondisi pertumbuhan ekonomi masyarakat).

C. Landasan Pendidikan Sekolah Islam Unggulan:
1. Menejemen peningkatan mutu pendidikan
Menejemen mutu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari system penyelenggaraan pendidikan pada sekolah Islam unguulan, sekolah-sekolah Islam unggulan sampai ke daerah-daerah sangat menekankan aspek mutu, bahkan ketika terbentuknya paguyuban bagi sekolah-sekolah unggulan pada tahun 1996 melalui pertemuan semiloka di Jakarta, nama yang disepakati bagi paguyuban ini adalah Forum Silaturahmi Sekolah Swasta Islam yang berorientasi mutu.
2. Membangun tata sosio-kultur
Aspek terpenting dan menarik sebagaimana yang dikembangkan di sekolah Islam unggulan adalah membangun tatanan sosio-kultur sekolah, dalam tatanan pergaulan antar warga sekolah, sekolah Islam unggulan di semua daerah membangun tatanan sosio-kultur yang benuansa Islami.
Norma dan nilai-nilai yang dianut adalah norma keislaman, contohnya: sekolah memprogramkan sholat jamaah bagi para siswa, tata pergaulan antara siswa dan guru yang didasarkan pada nilai-nilai akhlak Islam, siswa menyapa teman atau guru dengan ucapan salam, bahkan dalam mengenakan seragam sekolah pun guru dan siswa setiap hari diwajibkan berbusana muslim. Untuk itu peran serta semua guru sangat menentukan dalam rangka pelembagaan praktik ibadah serta persosialisasian nilai-nilai keislaman. Dalam hal ini bukan hanya tugas guru agama saja , melainkan juga tanggungjawab semua guru dan staf sekolah.
3. Pemberdayaan sistem pendidikan Islam dalam persaingan kualitas
Dalam antisipasi tentang pasar global di abad 21, sistem pendidikan Islam perlu diberdayakan dalam membina dan mempersiapkan peserta didik khususnya pada penguasaan sains dan teknologi, hampir dapat dipastikan bahwa penguasaan iptek telah menjadi harapan dan tuntunan masyarakat global. Sejalan dnegan pandangan ini, menjadi al yang menarik untuk diperhatikan tentang apa yang pernah disampaikan salah satu komisi UNESCO bahwa pelajar pada abad 21 harus didasarkan pada 4 pilar, yakni: learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk dapat melakaukan), learning to be (belajar untuk menjadi), and learning to live together (belajar untuk hidup bersama). Makna hakiki yang dapat kita pahami dari keempat pilar di atas adalah proses pembelajaran yang dijalankan oleh institusi pendidikan haruslah diorientasikan pada peningkatan kualitas akademik dan kualitas pengabdian kepada masyarakat yang didasari pada sifat kemandirian melalui belajar aktif.
Berdasarkan 4 pilar yang disebutkan di atas, sebenarnya prototype manusia yang dibuthkan di era globalisasi ini bukan hanya sosok individu yang menguasai kecanggihan teknologi atau berbagai kecakapn ilmu lainnya, akan tetapi juga harus memiliki komitmen kepribadian yang kokoh. Dua pilar terakhir memiliki makna yang komperhensip tentang kepribadian, yaitu mereka yang memiliki integritas moral, kreatif, percaya diri, serta kesadaran yang kuat akan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat yang sangat heterogen.
Sejalan dengan itu, Ahmad Watik lebih jelas menggambarkan corak dan ciri masyarakat yang akan berkembang di masa sekarang dan yang akan datang, yaitu:
a. Terjadinya teknologisasi kehidupan sebagai akibat adanya loncatan revolusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
b. Kecendrungan prilaku masyarakat yang semakin fungsional dalam masyarakat seperti ini hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan dan kepentingan semata
c. Masyarakat padat informasi, dalam masyarakat seperti ini keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh berapa banyak dan sejauh mana dia menguasai informasi
d. Kehidupan yang makin sistematik dan terbuka, yakni masyarakat yang sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem yang terbuka (open sistem)

D. Strategi Sekolah Islam Unggulan Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan
Peningkatan kualitas pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor yang penting dan sangat berkaitan. Berdasarkan teori yang berkembang bahwa mutu pendidikan sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yakni input dan proses pendidikan, input pendidikan meliputi: kurikulum, perencanaan dan evaluasi, ketenagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana, iklim sekolah dan hubungan sekolah dengan masyarakat. Sedangkan proses pendidikan meliputi proses pengelolaan kelembagaan (proses pendidikan, proses pengelolaan program, proses pengambilan keputusan, proses pembelajaran dan proses monitoring evaluasi.
Dalam pembahasan ini akan dibahas mengenai strategi sekolah islam unggulan dalam peningkatan kualitas pendidikan, diantaranya yang dilakukan oleh SMA Muhammadiyah Yogyakarta, SMA unggul Darul Ulum Jombang, SMA plus Al-azhar Medan, SMA Islam Ath-thahiroh Makasar dan SMA Dwiwarna Parung, serta SMA Islam unggulan Al-azhar jakarta. Pada kesempatan kali ini kami hanya menyebutkan upaya atau strategi apa saja yang dilakukan SMA Islam unggulan Al-azhar jakarta dalam meingkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut:
1. Pengembangan aspek kurikulum
Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di sana, dilakukan pengembangan dalam bidang kurikulum. Kontruksi kurikulum selalu dilakukan dengan mempertimbangkan rancangan yang memiliki dimensi keseimbangan antara pelajaran umum dengan pelajaran agama, antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, dan juga antara aspek teoritis danpraktis. Selain itu salah satu faktor keunggulan yang dimiliki sekolah ini adalah nuansa keagamaan dalam kurikulum pendidikannya.
Dalam merancang kurikulum, sekolah ini membentuk tim yang bertugas untuk menyusun kurikulum materi agama yang kemudian dikenal dengan kurikulum Al-azhar. Rancangan kurikulum didasarkan oleh tolak ukur pada siswa di bidang pendidikan agama, kriterrianya yaitu:
a. Taat ibadah, mampu berzikir, berdoa dan menjadi imam sholat
b. Mampu bermuamalah dalam kehidupan masyarakat
c. Memiliki akhlak yang baik terhadap Allah dan makhlukNya
d. Meyakini kebenaran Islam
e. Memiliki pengetahuan yang menyeluruh dan terpadu tentang Islam
f. Memiliki daya tahan dan peka terhadap ajaran atau paham yang dapat mengubah akidah
g. Mampu melakukan amr ma’ruf nahi munkar dengan baik dan benar
h. Mau mendalami Islam dan mendakwahkannya
i. Mampu membaca Al-quran dengan baik dan benar, menghayati dan mengamalkan isinya, dan
j. Memiliki toleransi sosial
Dalam bidang umum sekolah ini menerapkan kurikulum Depdiknas secara murni dan diorientasikan pada pengembangan iptek, pengembangan kurikulum bidang sains dilakukan dengan penambahan jam pelajaran
2. Sistem rekrutmen tenaga pengajar dan siswa yang berkualitas
Dalam menjaring tenaga yang berkualitas dan profesional, SMA Al-azhar Jakarta menerapkan beberapa tahapan dalam rekrutmen tenaga pengajar, meliputi seleksi berkas, penjaringan melalui ujian umum meliputi bidang agama, pengetahuan umum, bahasa Inggris dan lain-lain, ujian teknis, tes praktik, wawancara dan masa percobaan.
Dalam menjaring calon siswa yang berkualitas, sekolah ini hanya menerima siswa yang berasal dari SMP Al-azhar jakarta, jumlah siswa baru yang diterima setiap tahunnya rata-rata hanya 120 orang siswa. Hal ini dilakukan agar diperolehnya mutu pendidikan, mengingat pengertian mutu itu sendiri sebagaimana digariskan oleh Joseph juran: “kesudian produk dengan penggunaannya, seperti sepatu olahraga yang dirancang untuk olahraga, atau sepatu kulit yang dirancang untuk ke pesta atau ke kantor”. Berarti dalam hal ini siswa SMP Al-azhar adalah produk yang mereka gunakan untuk melanjutkan pendidikan yang belum mereka gapai
3. Pengembangan metodologi pembelajaran
Strategi lain yang dikembangkan sekolah ini dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah mengembangkan metodologi pembelajaran. Model pembelajaran yang dijalankan tidak lagi bersifat monologis dalam bentuk klasikal yang hanya menjadikan anak menjadi pasif, sekolah ini memiliki tiga keunggulan utama terkait dengan pengembangan metodologi pembelajaran meliputi: pengembangan metode imtaq (iman taqwa), aktif learning dan pembelajaran dengan multi media
4. Pemanfaatan sarana pendidikan dan media pembelajaran
Salah satu keunggulan sekolah ini seperti halnya sekolah-sekolah elit Islam lainnya adalah kelengkapan sarana dan fasilitas pendidikan. Sudah tentu hal ini dimaksudkan untuk mendukung tercapainya mutu pendidikan. Secara realitas, SMA Islam unggulan Al-azhar jakarta memang memiliki sarana dan fasilitas yang lebih lengkap dibanding sekolah-sekolah lainnya, seperti: laboratorium IPA, laboratorium bahasa, ruang komputer, ruang audio visual, perpustakaan, masjid dan sarana ibadah, sarana olahraga serta ruang kesenian.

E. Reformulasi Visi-Misi dan Tujuan Kelembagaan
Setiap sekolah Islam unggulan memiliki visi-misi dan tujuan yang berjangkaun luas. Hadirnya sekolah Islam unggulan adalah untuk mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas dan memberi kontribusi pada perbaikan kualitas SDM Indonesia yang lebih mumpuni.
Umat Islam pada umumnya merindukan sebuah lembaga pendidikan Islam yang unggul dan berprestasi. Menurut Azumardi Azra, bahwa tujuan munculnya madrasah atau sekolah Islam unggulan merupakan proses “santrinisai” masyarakat muslim Indonesia. Proses santrinisasi itu dapat digambarkan melalui dua cara, yaitu:
1. siswa pada umumnya telah mengalami “islamisasi” namun perlu mendapat perhatian dan penekanan lebih mendalam lagi, selain mempelajari ilmu-ilmu umum secara berkualitas. Mereka dibimbing lebih intensif bagaimana membaca al-Qur’an secara fasih, melaksanakan shalat dengan tepat dan benar, hingga memahami nilai-nilai ajaran substansial dalam Islam.
2. ketika para siswa belajar di madrasah dan sekolah Islam unggulan itu pulang ke rumah, mereka dapat mengajarkan kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Paling tidak, para siswa memiliki rasa tanggungjawab kepada orangtua dan keluarganya untuk mendakwahkan misi dan tujuan Islam yang mulia itu.
Untuk menjadikan sekolah Islam itu benar-benar unggul, perlu sebuah formulasi konsep, visi-misi dan tujuan yang hendak dicapai oleh lembaga itu. Sekolah Islam/madrasah unggulan bukan sekadar slogan dan nama, melainkan mengemban amanah yang mulia untuk melahirkan lulusan yang mutunya baik. Visi-misi dan tujuan itu kemudian dijadikan sebagai acuan dan nilai-nilai bagi para pimpinan, guru dan karyawan serta para siswa untuk mendasari setiap aktivitas dan kegiatan pembelajarannya.
Melalui visi-misi dan tujuan itu, maka madrasah dan sekolah Islam unggulan akan dapat memetakan rencana strategis dan serangkaian program yang relevan dan signifikan. Misalnya apakah sistem madrasah dan sekolah Islam itu diformat dengan sistem perpaduan antara pesantren dengan pendidikan madrasah/sekolah, atau menentukan program full day school sebagai langkah dan upaya untuk mencapai kualitas pembelajaran yang diinginkannya. Penyusunan visi-misi dan tujuan kelembagaan membutuhkan kerja kolektif antara pimpinan, para guru dan warga sekolah/madrasah. Sebab, rumusan itu harus dapat diterima oleh semua pihak dan dapat dijalankan siapa saja yang berada di lingkungan institusi tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar